Sejak kami menikah, kami memiliki janji bila suatu hari diberikan amanah berupa kehadiran anak di rumah tangga kami anak itu akan senantiasa berada dalam asuhan tangan kami sendiri, tidak dengan eyangnya dan juga tidak dengan pembantu, baby sitter atau apapun sebutannya. Di kala ayahnya tidak berada di rumah maka ia akan bersama ibunya, dan bila sang ibu sedang keluar rumah ia akan berada dalam pengawasan bapaknya.
Alhamdulillah setahun menikah kami dikaruniai anak pertama: Nurul Syahid Kusuma (Enes). Enes adalah anak yang luar biasa. Usia 2,5 tahun ia telah mahir membaca huruf Latin dan Arab. Usia 3 tahun ia mahir menulis Latin. Runut balik dari prosesnya belajar menghasilkan buku latih baca anak yang kami namakan Abacabaca (bukunya dapat diperoleh di Gramedia). Untuk proses baca huruf Arabnya insyaAllah sedang kami susun. Usia 4 tahun Enes mempelajari Sempoa sebagai alat hitung. Karena sesuatu hal, kami memutuskan untuk ibunya saja yang belajar, yaitu saya sendiri; nanti biarlah Enes belajar Sempoa dari saya. Seingat saya waktu itu sempoa miliknya rusak karena digunakan untuk main mobil-mobilan; lalu Enes memainkan jari-jarinya. Sepertinya asyik juga. Saya pun tergerak mengotak-atik jari ini untuk berhitung. Jari digunakan sebagai alat hitung bukanlah barang baru. Kami, saya dan suami, melihat bahwa proses ini mungkin dapat membantu anak menghilangkan fobia terhadap Matematika. Sebagaimana diketahui Matematika masih menjadi momok bagi sebagian besar anak (dan juga orang tua). Maka kami belajar untuk menjadikannya mudah dan menyenangkan (yang kemudian menjadi motto Jarimatika). Ketika menyusun bukupun kami mempertimbangkan sekali aspek mudah dan menyenangkan ini. Kami meminta kepada penerbit agar memberikan banyak gambar menarik untuk memudahkan pemahaman dan juga menarik minat untuk mempelajarinya. Beberapa cerita kami sisipkan untuk memberikan jeda dan memberikan ilustrasi pentingnya jeda dalam proses belajar. Bahasanya kami upayakan agar ringan dan mudah dimengerti. Feedback paling mengesankan yang pernah kami terima adalah ucapan terima kasih dari seorang bapak/suami yang mengatakan bahwa kini istri dan anaknya terlihat makin akrab saat membicarakan pelajaran berhitung. Semula, menurut beliau, suasananya kerap kali tegang dan kerap bersitegang. Senang sekali hati kami. Kami berharap memang buku itu dapat digunakan untuk sarana menjalin komunikasi hangat dalam keluarga. Selain membaca, ketrampilan dasar yang dianggap perlu untuk dikuasai anak sejak awal adalah berhitung. Maka orang tua acapkali kemrungsung (tidak sabar) agar anak mereka segera menguasai kedua hal ini. Hal itu yang sering menyebabkan situasi yang kurang menyenangkan. Maka bila buku Jarimatika dan juga Abacabaca dapat memberikan kontribusi dalam proses dasar itu dalam suasana yang menyenangkan, kami tentu sangat senang. Nah bila diperlukan teman belajar dan bermain, barulah ajak anak untuk bergabung dengan Unit Kegiatan Jarimatika terdekat (alamat unit-unit kegiatan dapat dilihat di website ini). Di Unit Kegiatan Jarimatika memang banyak aktivitas bermain, menari, bernyanyi dan mendongengnya. Namun proses belajar terbanyaknya harapan kami tetap berada bersama orang tua. Mengapa demikian? Banyak hal dan inspirasi yang akan Bunda dapatkan saat beraktivitas bersama putera-puteri tercinta (sebagaimana saya ceritakan di depan bahwa Jarimatika dan Abacabaca lahir dari proses pergumulan yang intens dengan buah hati kami). Bila Enes memberikan inspirasi tentang materi dan isinya, anak kedua kami -- Kusuma Dyah Sekararum (Ara) -- yang menjadi sarana uji kami memberikan gagasan bagaimana materi itu mesti disampaikan (delivery process). Bilamana ada Ara, dimanapun dan kapanpun suasananya pasti akan sangat menyenangkan. Selamat beraktivitas dengan putera-puteri tercinta. Kami tunggu gagasan dan ceritanya. Jika berkenan bisa dibagikan melalui media www.jarimatika.com atau www.ibuprofesional.org. Jika Bunda melihat kedua anak kami adalah perempuan, lalu berpikiran “mendidik anak perempuan lebih gampang daripada mendidik anak laki-laki”, pada kesempatan lain mari kita berbagi tentang pendidikan anak laki-laki karena anak ketiga kami adalah seorang lelaki: Elan Jihad Muhammad. Dan jujur kami sampaikan: Memang berbeda dinamikanya. Sampai jumpa dan sukses selalu untuk Bunda sekeluarga. |